Saturday, July 14, 2018

Cheng Ho Temukan Benua Amerika Lebih Dulu dari Columbus

HOBI99.IN
Beijing - Jauh sebelum Christopher Columbus mencapai 'Dunia Baru' dan Ferdinand Magellan berlayar mengelilingi Bumi, Laksamana Cheng Ho (Zheng He) asal Tiongkok menjejakkan kaki ke tanah yang belum dipijak Bangsa Eropa.
Hari itu, 11 Juli 1405, Laksamana Cheng Ho angkat sauh dari Nanjing, ibu kota Tiongkok pada awal pemerintahan Dinasti Ming. Armadanya terdiri atas 200 kapal dan 28 ribu kelasi, jauh lebih besar dari kepunyaan Columbus, yang pada 1492 hanya membawa tiga bahtera: Nina, Pinta, dan Santa Maria.
Teknik navigasi dan kapal yang dimiliki Cheng Ho juga amat canggih pada masanya.
Dari Nanjing, Cheng Ho berlayar melintasi Asia dan Arabia, hingga mencapai lokasi yang kini menjadi pantai Somalia.
Wilayah yang ia jelajahi konon lebih luas dari itu. Sebab, antara tahun 1405 dan 1433, pemerintahan Dinasti Ming mensponsori tujuh perjalanan eksplorasi, di mana Cheng Ho menjadi komandannya. Tujuannya adalah memperluas pengaruh China di tanah asing dan jaringan perdagangan.

Seperti dikutip dari nationalgeographic.org, perjalanan ketiga Cheng Ho membawanya ke wilayah yang kini dikenal sebagai Vietnam tengah, pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia, Sri Lanka, India selatan dan barat, serta Thailand.
Ia bahkan disebut-sebut sebagai penemu benua Amerika dan Australia.
Seperti dikutip dari New York Times, pada 2006, seorang pengacara dan kolektor terkemuka asal Beijing, China mengungkap sebuah peta lama yang konon membuktikan bahwa bangsa Eropa bukanlah orang pertama yang berlayar ke seluruh dunia dan menemukan Amerika.
Peta lawas tersebut digambar pada tahun 1763, namun ada catatan di dalamnya yang menyebut bahwa dokumen tersebut adalah reproduksi dari atlas yang berasal dari tahun 1418.
Liu Gang, nama kolektor bersebut, mengaku membeli peta itu seharga US$ 500 di sebuah toko di Shanghai pada 2001. Namun, baru belakangan ia menyadari arti pentingnya.

"Isu utamanya bukanlah peta itu sendiri," kata dia dalam sebuah konferensi pers. "Namun, informasi di dalamnya berpotensi mengubah sejarah," kata dia.
Sekelompok cendekiawan dan penggemar sejarah, yang dipimpin oleh Gavin Menzies, mantan komandan kapal selam Angkatan Laut Inggris, berpendapat bahwa Cheng Ho melakukan perjalanan lebih jauh daripada anggapan kebanyakan sejarawan China dan Barat.
Menzies bahkan mengklaim, Cheng Ho mengunjungi benua Amerika pada 1421, 71 tahun sebelum Columbus.

Dalam bukunya yang terbit pada 2003, 1421: The Year China Discovered America" (William Morrow/HarperCollins), Menzies mengungkapkan sejumlah bukti yang menyebut, Cheng Ho berlayar ke wilayah yang kini menjadi pantai timur Amerika Serikat pada 1421. Ia bahkan meninggalkan jejak permukiman di sana.
Pencapaian Cheng Ho telah menjadi spekulasi selama bertahun-tahun. Sebab, banyak catatan sejarah yang sengaha dihancurkan ketika para kaisar Tiongkok mengubah pikiran mereka terkait hubungan dengan dunia luar.

Liu Gang mengatakan, jika koleksinya tersebut benar-benar berasal dari tahun 1418, peta itu mengungkap pengetahuan tentang garis bujur dan garis lintang serta bentuk dasar dunia, termasuk fakta bahwa Bumi itu bulat, yang tidak mungkin berasal dari informasi dari bangsa Eropa.
Namun, para sejarawan belum menemukan kata sepakat soal peta yang yang konon didapat dari pelayaran Cheng Ho.
Gong Yingyan, sejarawan sekaligus ahli peta dari Zhejiang University mengatakan, atlas milik Liu Gang terlalu penuh dengan anakronisme, untuk disebut sebagai buatan dari Abad ke-15.
"Saya memiliki harapan besar ketika pertama kali mendengar tentang keberadaan peta semacam itu," kata Gong. "Tapi saya bisa melihat sekarang bahwa itu adalah peta yang sepenuhnya biasa yang tidak membuktikan apa-apa," kata dia soal peta yang diklaim jadi bukti penjelajahan Laksamana Cheng Ho.

Cheng Ho (Zheng He) terlahir pada 1371 dengan nama Ma He. Pria yang lahir di Yunan tersebut adalah keturunan diplomat besar asal Rusia Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar -- yang dipilih sebagai Gubernur Yunnad di masa pemerintahan Dinasti Yuan.
Sementara, buyutnya, kakek dan ayahnya, semua bertugas di garnisun Mongolia di dekat Yunnan.
Ayahnya tewas pertempuran ketika Dinasti Ming naik ke tampuk kekuasaan dan orang-orang Mongol diusir dari Yunnan. Cheng Ho yang kala itu masih berusia 11 tahun dijadikan kasim atas perintang seorang jenderal Ming dan dikirim ke istana.
Cheng Ho kemudian membantu Kaisar Yongle atau Zhu Di, menggulingkan Kaisar Jianwen. Atas jasa dan kesetiaannya, penguasa baru mengangkatnya sebagai komandan angkatan laut. Cheng Ho juga punya posisi dan pengaruh kuat di istana.
Seperti dikutip dari gbtimes.com, Zhi Di punya kebijakan asing yang aktif sekaligus agresif. Ia mendambakan perluasan wilayah Tiongkok.

Sebagai bagian dari upaya mencapai tujuannya, ia mengirim armada raksasa ke Asia Tenggara untuk menjelajahi rute perdagangan baru. Dikomandani Cheng Ho, armada tersebut membawa membawa barang dan pasukan, yang mencapai negara-negara Asia Selatan, Afrika Timur dan Arabia. Pelayarannya memicu salah satu periode pertukaran perdagangan dan budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Tiongkok.
Namun, para sejarawan menduga, ada alasan lain di balik itu. Sang kaisar diyakini mengirim armada dalam rangka mengejar kaisar yang terguling, Jianwen yang kala itu jadi buron.
Ia diduga tak tewas selama Pertempuran Nanjing namun bersembunyi di suatu tempat di barat laut China -- sembari terus melancarkan perlawanan pada kaisar baru.
Selama 1405 hingga 1433, Cheng Ho berlayar ke Laut Barat (Samudera Hindia) tujuh kali dengan armada yang terdiri atas 317 kapal dengan hampir 28 ribu awak.

Kapal terbesarnya berukuran panjang 130 meter -- yang jika dibandingkan, bahtera utama milik Columbus, Santa Maria, hanya mirip sekocinya saja. Kisahnya bahkan konon mengilhami dongeng Petualangan Sinbad, Sang Pelaut dalam Kisah 1001 Malam.
Pada 2005, peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho diperingati di China, negara asalnya.
"Dinasti Ming ... tidak perlu menaklukkan atau merampok negara lain, melainkan mencoba mempromosikan perdagangan dengan negara-negara miskin untuk membantu mereka berkembang, "kata pejabat China, Laksamana Muda Zheng Ming seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.
Namun, Geoff Wade, sejarawan dari National University of Singapore berpendapat apa yang dilakukan Cheng Ho adalah misi militer dengan tujuan strategis, seperti kekuatan kolonial lain.
Selain awal perjalanan Cheng Ho, sejumlah peristiwa bersejarah terjadi pada 11 Juli. Pada 1970, ssebuah roket Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di Daerah Sunyi Mapimí, Meksiko, selanjutnya menimbulkan legenda urban bahwa di daerah tersebut sinyal radio tidak dapat diterima.
Sementara pada 11 Juli 1995 terjadi Pembantaian Srebrenica. Sekitar 8.000 orang Muslim Bosnia dibunuh tentara Serbia-Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladić.

HOBI99.IN






Tak Tersentuh Ribuan Tahun, Peti Mati dari Era Mesir Kuno Ini Akan Segera Dibuka

HOBI99.IN
Kairo - Arkeolog tengah bersiap untuk membuka sarkofagus granit hitam yang ditemukan di kota pelabuhan Mesir, Alexandria. Benda purbakala tersebut ditemukan oleh pekerja konstruksi ketika sedang menggali di sekitar tempat kejadian.
Dengan tinggi hampir dua meter dan panjang tiga meter, sarkofagus ini merupakan yang terbesar yang pernah ditemukan utuh di kota kuno itu.
Ketika digali, artefak tersebut berada di samping patung kepala dari alabaster -- batu mineral yang lembut, sering digunakan untuk mengukir dan diproses untuk bubuk plester -- yang diyakini mewakili penghuni makam.

Sarkofagus granit itu menjadi sumber kegembiraan bagi para arkeolog, sebab lapisan mortar di antara badan dan tutupnya menandakan bahwa isinya tidak tersentuh selama dikubur.
Kedua penemuan tersebut diyakini berasal dari periode Ptolemaic awal, yang dimulai setelah kematian Alexander Agung pada 323 SM.
"Kami perkirakan makam ini adalah milik salah satu pejabat tinggi pada periode itu," kata Ayman Ashmawy, kepala urusan artefak di Kementerian Barang Antik dan Benda Kuno Mesir.
"Sedangkan kepala alabaster mungkin adalah seorang bangsawan di Alexandria. Ketika kami membuka sarkofagus, kami berharap benda-benda yang berada di dalamnya tetap utuh, sehingga bisa membantu kami untuk mengidentifikasi patung itu," imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (12/7/2018).

Tetapi, menurut Ashmawy, membuka sarkofagus untuk pertama kali diperlukan tenaga ekstensif agar terlaksana sempurna.
"Sangat berisiko untuk membukanya secara langsung, kami perlu mempersiapkannya," ujar Ashmawy menjelaskan.
Ia menambahkan, sarkopagus akan dibuka di situs itu juga karena sulit untuk memindahkannya secara utuh dan membukanya apabila sudah berada di museum Mesir.
"Sarkofagus tersebut berada lima meter di bawah tanah dan berat totalnya yakni lebih dari 30 ton. Penutupnya saja beratnya sudah 15 ton."

Dalam beberapa minggu mendatang, tim teknisi akan mengunjungi situs tersebut untuk menyediakan alat pengangkat berat dan alat pendukung struktural.
Semua ini mungkin diperlukan oleh para arkeolog untuk melepas tutup sarkofagus. Setelah berada di dalam, ahli mumifikasi dan restorasi akan mengambil alih pekerjaan untuk memastikan isinya.
Sementara itu di Sydney, Australia, sejumlah koleksi barang antik Mesir (artefak) ditemukan saat seorang pemilik rumah sedang bersih-bersih.
Penemuan itu terjadi di rumah Rosemary Beattie yang mengaku waktu kecil dia memang pernah diperlihatkan benda yang tampak seperti mumi kucing di rumah neneknya tersebut.

"Kami datang melihat-lihat, dan saya pikir itu kucing," kata Beattie, demikian dikutip dari laman ABC Indonesia, Minggu 3 Juni 2018.
Barang yang dibungkus kain itu adalah merupakan salah satu dari barang antik milik kakeknya, Dr. John Basil St Vincent Welch, yang dibawanya pulang setelah bertugas sebagai paramedis di tengah Perang Dunia I.
Diyakini bahwa kakeknya mendapatkan bantuan dari penerjemah setempat dalam membeli barang-barang antik ini sebagai oleh-oleh dari Mesir.
"Dia membawa kembali kenangan indah," kata Beattie.
Sejumlah artefak itu disimpan oleh ibu Beattie, Margaret St Vincent.
Barang-barang itu diwariskan suaminya, yang juga bernama John Basil St. Vincent Welch, yang mewarisi barang antik itu setelah kematian ayahnya.
Namun kondisi kesehatan Margaret memaksanya pindah ke fasilitas perawatan lansia. Rumahnya pun dijual untuk membantu biaya perawatannya.
Saat membersihkan rumah itulah, Beattie mendapat tugas untuk menangani satu kotak berisi barang-barang antik dari Mesir.

"Kotaknya besar. Kotak itu sudah tergeletak di beranda, di atas lemari. Kami sedang memikirkan apa yang akan kami lakukan."
Anggota keluarga menyarankan barang-barang tersebut disumbangkan ke Universitas Sydney. Baik John Basil maupun anaknya pernah menuntut ilmu di sana.
Arkeolog di universitas itu, Candace Richards, sangat senang saat mengetahui keberadaan koleksi tersebut.

"Saya senang, antusias, dan penasaran dengan apa yang ada di rumah itu," kata Richards.
"Kami tahu bahwa banyak tentara, terutama pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II, membeli artefak asli dan kami juga tahu banyak barang palsu."
Dengan donasi itu, Museum Nicholson Universitas Sydney telah mengatalogkan 185 artefak, mulai dari amulet kecil, kumbang scarab, hingga fragmen peti mati, barang keramik dan koin perunggu dari era Romawi.

Diyakini beberapa dari benda itu berasal dari milenium pertama Sebelum Masehi.
"Ini sangat langka di Australia. Kami memiliki barang-barang dari prajurit Perang Dunia I lainnya tetapi skalanya tidak sebesar ini."
Salah satu benda berbentuk panjang yang dibungkus kain diduga adalah mumi kucing. Artefak tersebut akan diperiksa lagi untuk mengonfirmasi apakah benar isinya kucing.
"Kita tidak bisa membongkarnya begitu saja karena akan menghancurkan artefaknya," katanya. "Dengan teknologi kedokteran yang kita gunakan selama ini, kita bisa menerapkannya untuk artefak Mesir."

Diharapkan barang-barang itu nantinya akan ditampilkan dalam pameran di salah satu fasilitas museum yang diharapkan selesai pada 2020.
Berusia Ribuan Tahun
Keluarga Beattie sebelumnya telah menyumbangkan 70 item yang berhubungan dengan militer ke Australian War Memorial.
Peninggalan lain yang ditemukan di rumah mereka termasuk 500 piringan foto negatif, pedang, dan granat tangan yang awalnya disimpan ayahnya yang juga bertugas selama Perang Dunia II.
Medali yang dimiliki dua tentara Jerman akan dikembalikan ke pemiliknya yang sah.
Ibunda Beattie, Margaret, meninggal tidak lama setelah artefak Mesir ini disumbangkan. Namun hal ini mendorongnya untuk mengungkap lebih banyak tentang sejarah keluarganya.
"Sayangnya kakek saya tidak banyak dibicarakan karena dia meninggal, ketika ayah saya berusia lima atau enam tahun akibat influenza," katanya.
"Jadi kami tidak tahu banyak tentang pria luar biasa itu dan sekarang kami menemukan betapa dia sangat menarik. Ini sangat berarti kami."

HOBI99.IN