Friday, January 26, 2018

Dalam 3 Minggu, Pria AS Bunuh 9 Orang Termasuk Ibu Kandung

HOBIQQ

Phoenix - Pengadilan Kota Phoenix di negara bagian Arizona, Amerika Serikat (AS), menyatakan seorang pria bersalah atas sembilan pembunuhan yang dilakukan dalam waktu tiga minggu.
Dilansir dari laman BBC pada Jumat (19/1/2018), pria berusia 35 bernama Cleophus Cooksey itu ditangkap pada 17 Desember lalu, sesaat setelah membunuh ibu kandung dan ayah tirinya dengan senjata api.

Dalam penangkapan terkait, polisi juga menemukan fakta bahwa Cooksey membunuh tujuh korban lainnya dengan senjata api yang sama, yakni sebuah pistol prototipe.
Menurut laporan resmi kepolisian setempat, belum ditemukan motif di balik sederet pembunuhan yang dilakukan oleh Cooksey, termasuk hubungan antara pelaku dan korban. Selain itu, selama masih dilakukan investigasi lanjutan terhadap pembunuhan terkait, ada kemungkinkan korban pembunuhan lainnya yang belum terungkap.

Cooksey sendiri tercatat sebagai seorang residivis yang sebelumnya pernah dijatuhi hukuman penjara selama 16 tahun, atas kasus pembunuhan dan perampokan bersenjata yang dilakukannya di penghujung usia remaja. Ia dibebaskan pada Juli 2017 lalu. Dalam konferensi pers yang dilakukan pada Kamis, 18 Januari 2018, polisi menjelaskan lini masa pembunuhan yang dilakukan oleh Cooksey selama tiga minggu.
Pada 27 November 2017, Cooksey diduga menembak mati Andrew Remillard, 27, dan Parker Smith, 21. Beberapa hari setelahnya, tepatnya pada 2 Desember, Salim Richards, 35, ditemukan tergeletak dalam kondisi kritis di apartemennya, dan meninggal tak lama berselang.

Jesus Bonifacio Real, 25, ditemukan tewas tertembak pada 11 desember di rumahnya di Kota Phoenix.
LaTorrie Beckford, 29, seorang petugas ambulans juga tertembak mati pada 13 Desember.
Pada 15 Desember, Kris Cameron, 21, ditemukan sekarat dengan beberapa luka tembak di sebuah lapangan di dekat lokasi korban sebelumnya. Ia kemudian meninggal sehari setelahnya.
Selain itu, seorang ibu berusia 43, Maria Villaneva, tewas ditembak pada 13 Desember setelah sebelumnya mendapat pelecehan seksual.

Pada 17 Desember 2017, polisi menerima sebuah laporan adanya kasus penembakan di sebuah apartemen di pusat Kota Phoenix. Saat tiba di lokasi, Cooksey tertangkap basah tengah memegang barang bukti senjata api.
Kedua korban pembunuhan terakhir tersebut diketahui bernama Rene Cocksey, 56, dan Edward Nunn, 54, yakni pasangan ibu kandung dan ayah tirinya.


HOBIQQ




Misteri Pria yang Mengaku Kabur dari Penjara Alcatraz pada 1962

HOBIQQ



San Fransisco - Kisah pelarian ketiga orang ini dari Penjara Alcatraz di Amerika Serikat, adalah salah satu misteri terbesar di Negeri Paman Sam.
Kini, kisah John Anglin, Clarence Anglin, dan Frank Morris yang kabur dari Penjara Pulau Alcatraz, San Fransisco pada 1962 -- dan berstatus buron sejak melarikan diri -- kembali menjadi sorotan.
Mereka kembali menjadi sorotan usai sebuah surat yang diduga ditulis oleh John Anglin terungkap ke publik. Demikian seperti dikutip dari CBS News (25/1/2018).
Surat yang ditulis dan dikirim pada tahun 2013 itu berisi tentang sebuah klaim pengakuan tentang aksi pelarian Anglin bersaudara dan Morris dari Alcatraz pada 56 tahun silam

Kawat itu juga berisi sebuah usulan negosiasi.
John Clarence rela untuk kembali menjalani hukuman penjara tak lebih dari satu tahun, dengan syarat, agar pihak berwenang memberikan perawatan medis bagi dirinya yang -- saat surat itu ditulis -tengah mengidap penyakit kanker.
"Nama saya John Anglin. Saya melarikan diri dari Alcatraz pada Juni 1962 bersama saudaraku Clarence dan Frank Morris," menurut kutipan surat tersebut, dengan keterangan tahun 2013.
"Ya, kami berhasil kabur pada malam itu, tapi nyaris gagal!"
"Umur saya 83 tahun (saat surat itu ditulis) dan dalam kondisi buruk. Saya menderita kanker."
"(...) Saya akan berjanji untuk kembali masuk penjara tak lebih dari setahun demi mendapat perawatan medis, saya akan menulis kembali untuk memberi tahu Anda di mana saya berada. Ini bukan lelucon, ini benar dan jujur adanya," tambah John.
Surat itu juga mengklaim, "Frank Morris telah meninggal pada 2008. Makamnya berada di Alexandria dengan nisan yang berbeda nama."

Sementara itu, surat tersebut juga menulis bahwa Clarence Anglin telah berpulang ke pangkuan Tuhan pada 2011, beberapa dekade sejak ketiganya melarikan diri dari Alcatraz.
Setelah berbagai macam penyelidikan, pada 1979, Biro Investigasi Federal AS (FBI) menyimpulkan secara resmi bahwa ketiga buronan itu tak berhasil menyeberangi Pulau Alcatraz dan -- kemungkinan besar -- tewas tenggelam di Teluk San Fransisco.

Kendati demikian, Biro AS untuk Urusan Buronan Penjara (US Marshals) menetapkan bahwa kasus pelarian dan operasi perburuan ketiga buronan itu masih 'terbuka dan aktif'.
Kini, surat yang baru mencuat sekarang itu menandai babak baru penyelidikan tentang kasus pelarian dari penjara yang cukup terkenal di Negeri Paman Sam.
Seperti dikutip dari The New York Post, US Marshals telah meminta Laboratorium FBI untuk menganalisis serta menemukan jejak biologis dari surat tersebut -- yang mungkin dapat dicocokkan dengan Anglin Bersaudara atau Morris.
Dalam sebuah pernyataan kepada CBS, US Marshals menulis, "Sama sekali tidak ada alasan untuk percaya bahwa ada di antara para buronan yang akan mengubah gaya hidup mereka dan menjadi warga yang benar-benar mematuhi hukum setelah melarikan diri."



HOBIQQ


Wednesday, January 24, 2018

Demi Kepuasan, Perawat Jerman Ini Bunuh 97 Pasien dalam 2 Tahun

HOBIQQ


Berlin - Seorang perawat Jerman, yang sudah menjalani hukuman seumur hidup karena dua kasus pembunuhan, kembali mengahdapi masalah baru.
Ia dituduh membunuh lebih dari 97 pasien selama dua tahun di dua rumah sakit berbeda, di Jerman barat, seperti dilansir TIME, Rabu (24/1/2018).
Dakwaan baru terhadap Niels Hoegel mencuat setelah pejabat melaporkannya pada November lalu. Pejabat ini mengatakan, Hoegel mungkin telah membunuh lebih dari 100 pasien, apabila ditotal secara keseluruhan.

Hoegel diketahui bekerja sebagai perawat di dua rumah sakit berbeda. Pertama, di sebuah klinik di Oldenburg, Niedersachsen, Jerman, sejak tahun 1999 sampai 2002. Kedua, di klinik dekat Delmenhorst sejak 2003 sampai 2005.
Hoegel divonis pada tahun 2015 atas dua kasus pembunuhan dan dua percobaan pembunuhan di Delmenhorst. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.
Selama persidangan, Hoegel mengaku bahwa ia -- dengan sengaja -- menempatkan alat pemacu jantung ke sekitar 90 pasien di Delmenhorst, yang mana pasien-pasien itu telah disuntiknya agar koma.

Alasannya sangat tak masuk akal, yakni ada kepuasan tersendiri ketika ia mampu menyadarkan mereka.
Hoegel juga mengatakan kepada penyidik ​​bahwa ia telah membunuh puluhan pasien di Oldenburg.
Pernyataannya mendorong tim investigasi ​​untuk melakukan pemeriksaan toksikologi terhadap semua korban.
Meski persidangan baru Hoegel belum ditetapkan secara pasti, namun pengadilan negeri di Oldenburg, Jerman, menyatakan akan segera memulainya.
Hukuman tambahan dapat mempengaruhi pembebasan bersyarat Hoegel, tapi tidak ada hukuman yang dijatuhkan secara berturut-turut di Jerman.

Secara umum, orang yang menjalani hukuman seumur hidup biasanya diberikan pembebasan bersyarat, setelah 15 tahun masa hukuman.
Dari kasus baru tersebut, tercatat ada 62 pasien meninggal di Delmenhorst dan 35 pasien di Oldenburg.
Jaksa Martin Koziolek menerangkan, dalam tiga kasus yang sedang diperiksa, tim penyidik mencurigai beberapa pihak. Tes tidak bisa menghasilkan cukup bukti untuk memasukkan Hoegel ke lembar tuduhan.

Koziolek menambahkan, Hoegel mencekoki pasien dengan berbagai macam obat saat melakukan resusitasi (menyadarkan pasien). Jaksa penuntut meyakini, kematian pasien disebabkan karena dosis berlebih obat-obatan itu.
Polisi dan jaksa juga memeriksa lebih dari 500 dokumen pasien dan ratusan catatan dari kedua rumah sakit tempat Hoegel bekerja.
Mereka juga mengautopsi 134 jenazah dari 67 makam dan mececar Hoegel dengan pertanyaan sebanyak enam kali.
Polisi mengatakan, jika petugas kesehatan rumah sakit tidak memberi tahu pihak berwenang lebih awal, mungkin akan jatuh lebih banyak korban.
Kini, otoritas sedang menangani kasus pidana terhadap mantan staf di fasilitas medis tersebut.


HOBIQQ


HOBIQQ

Washington, DC - Dua kapten angkatan darat di Amerika Serikat telah memecahkan rekor baru. Mereka menikah di Akademi Militer AS, atau dikenal sebagai West Point atau USMA pada 13 Januari 2018.
Bukan pernikahan biasanya, tentunya. Diketahui, kedua pasangan tersebut merupakan pasangan homoseksual alias LGBT.
Daniel Hall (30) dan kekasihnya, Vincent Franchino (26), mengikat janji suci di akademi militer tertua di Amerika Serikat. Ini adalah kali pertamanya sekolah tentara menggelar pesta pernikahan pasangan sesama jenis.
Daniel dan Vincent mempunyai alasan tersendiri untuk mengadakan resepsi di West Point. Sebab,kKisah cinta mereka berawal di sana.

Keduanya pertama kali bertemu di West Point pada 2009. Daniel adalah seorang senior dan Vincent adalah mahasiswa baru.
Namun, kencan pertama mereka harus terhenti pada 2012 setelah AS mencabut kebijakan "don't ask don't tell" yang melarang LGBT melayani militer.
Daniel dan Vincent adalah pilot helikopter Apache. Sekarang mereka ditempatkan bersama di Fort Bliss di Texas, Amerika Serikat. Kami berkomitmen untuk bekerja secara profesional sejak awal menjalin hubungan, karena kami dipisahkan oleh kelas dan pangkat," ungkap Daniel kepada The Independent, Senin (22/1/2018).
"Kami sangat beruntung memiliki teman dan keluarga yang hadir dari berbagai penjuru dunia, bukti cinta dan dukungan mereka terus berlanjut dan tak terhenti. Awal bagus untuk memulai kehidupan pernikahan," lanjutnya.
Daniel dan Vincent mengumumkan rencana pernikahannya melalui Twitter pada bulan Juli 2017.

Daniel mengatakan, menikah di West Point bisa menyelamatkan keduanya dari biaya pernikahan yang mahal dan gangguan lain.
Akan tetapi, ide tersebut ditentang keras oleh dua hakim federal, walaupun akhirnya mereka membolehkannya per 1 Januari 2018.
Resepsi pernikahan kedua mempelai pun berjalan sederhana dan khidmat.
Kostum yang dikenakan tidak neko-neko. Keduanya sama-sama memakai seragam. Sedangkan untuk prosesi, mereka memilih ala militer.

Upacara pernikahan pasangan LGBT itu menandai gebrakan baru dunia kemiliteran AS dan komunitas LGBT di Negeri Paman Sam, pasca-Presiden Donald Trump melarang orang-orang homoseksual dan lesbian menjadi pelayan negara.
"Semakin kita terlihat sebagai sebuah komunitas, semakin banyak koneksi yang kita buat. Semakin banyak pula kemajuan yang bisa kita ciptakan," ucap sang kapten.


HOBIQQ








Tuesday, January 23, 2018

Pemuda di Bintaro Sekap Mantan Pacar di Penginapan

HOBIQQ

Jakarta Nafsu bejat Firman Saputra (22), membuatnya berakhir di bui. Sebab, dia nekat menyekap mantan kekasihnya, AS (21), di sebuah guest house atau penginapan di kawasan Bintaro, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, hanya demi mendapatkan kepuasan semata.
Peristiwa bermula ketika Firman menghubungi mantan kekasihnya tersebut untuk bertemu. AS yang awalnya menolak, terpaksa menyetujuinya lantaran Firman mengancam akan menyebarkan video intim hubungan mereka pada November 2017 lalu.

Korban yang dihubungi pelaku pun mendatanginya ke sebuah kamar penginapan di Bintaro lalu dijanjikan akan memberikan rekaman video syur tersebut untuk dihapus.
"Akhirnya keduanya bertemu di guest house di Bintaro. Namun, pelaku langsung mengikat korban dengan jaket yang dibawanya dan memaksa korban untuk berhubungan intim kembali," tutur Kapolres Tangsel AKBP Fadli Widiyanto dalam keterangannya di Mapolres Tangsel, Selasa (23/1/2018).

Aksi bejat itu sempat dilakukan dua kali dengan keadaan korban masih terikat di dalam kamar tersebut. Saat pelaku tertidur, korban langsung menghubungi keluarganya untuk meminta pertolongan. "Dia menghubungi pakai handphone pelaku, karena handphone-nya sudah rusak dihancurkan pelaku," kata Fadli. Keluarga korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tangerang Selatan. Saat itu juga, polisi bersama keluarga korban langsung mengepung dan mengamankan pelaku di penginapan tersebut. "Korban terlihat masih shock, tapi sudah bersama keluarga. Pelaku langsung diamankan di Polres," kata Fadli. 


HOBIQQ




Siswi SMP di Bali Meninggal Usai Berhubungan Intim dengan Pacar

HOBIQQ

Denpasar - Nasib nahas dialami LDS, siswi di sebuah SMP di Kabupaten Tabanan, Bali. Pelajar berusia 14 tahun itu meninggal usai berhubungan intim dengan pacarnya berinisial GDW (26).
Informasi yang dihimpun, LDS berkenalan dengan pacarnya itu melalui aplikasi pesan di BlackBerry. Dua sejoli itu kemudian berkomitmen menjalin asmara.
Ingin mengenal lebih dekat, keduanya memutuskan untuk bertemu. Mereka janjian bertemu di air terjun Singsing Angin, Desa Apit Yeh, Selemadeg, Tabanan, pukul 13.30 Wita, Minggu, 21 Januari 2018.
GDW yang asal Seririt, Singaraja, Kabupaten Buleleng, itu kemudian mengajak siswi SMP itu ke kamar kosnya di daerah Jalan Debes Gang IV, Dangin Carik, Desa Dajan Peken, Tabanan.

Sesampainya di kamar kos, mereka berdua menonton tayangan televisi. Tak lama setelah itu, GDW mengajak kekasihnya yang asal Banjar Dinas Pupuan Sawah, Desa Pupuan Sawah, Selemadeg, Tabanan, itu untuk berhubungan intim.
Tercatat dua kali dia berhubungan yang belum pantas dilakukan itu. Kasubag Humas Polres Tabanan AKP I Putu Oka Suyasa menjelaskan, pada hubungan badan yang pertama belum timbul masalah.

Petaka terjadi ketika setelah mereka melakukan hubungan badan untuk kedua kalinya. Korban mengeluarkan darah dari kelaminnya. Meski mengetahui hal itu, GDW menyempatkan diri ke kamar mandi dan meninggalkan kekasihnya di kamar untuk ke kamar mandi.
"Balik dari kamar mandi korban sudah tak sadarkan diri. Ia lalu dilarikan ke IGD Rumah Sakit Umum Tabanan," kata Suyasa, Senin (22/1/2018).
Menurut saksi yang merupakan tetangga rumah kos GDW, sebelum GDW memutuskan untuk membawa korban ke rumah sakit, ia sempat meminta minyak telon kepada tetangga rumah kosnya untuk membangunkan korban.

Akan tetapi, karena tak mempan, korban akhirnya dilarikan ke UGD BRSU Tabanan sekitar pukul 15.30 Wita. Saat tiba di UGD BRSU Tabanan, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.
Kepala Bidang Pelayanan Medik BRSU Tabanan, dr Gede Sudiarta menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan terhadap jenazah korban, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Hanya saja memang kelamin korban mengeluarkan darah berwarna merah kegelapan.
Polisi juga menemukan lecet kecil pada bibir korban berukuran 0,2 mm serta empat tanda bekas ciuman pada dada kanan dan kiri korban.

"Menurut pacarnya ya mereka sehabis melakukan hubungan badan, dan tidak sadarkan diri sekitar 1 jam sebelum dibawa ke UGD BRSU Tabanan," ujarnya.
Setelah mendapatkan informasi, keluarga korban mulai berdatangan ke BRSU Tabanan. Mereka tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat korban terbujur kaku di ruang jenazah BRSU Tabanan.
Akan tetapi, tak satu pun dari keluarga korban mau berkomentar. Akhirnya, jenazah korban dibawa ke RS Sanglah untuk menjalani autopsi sesuai permintaan keluarganya.

HOBIQQ



Monday, January 22, 2018

Begini Cara Sultan Maroko Punya 1.171 Anak dari 4 Istri dan 500 Selir

HOBIQQ

Wina Sultan Moulay Ismail dari Maroko tak hanya punya reputasi tanpa ampun di medan tempur. Konon, ia juga menjadi pemegang rekor pria terbanyak yang memiliki anak.
Guinness Book of World Records bahkan mencatat, Sultan Ismail adalah ayah dari 888 anak, pemilik jumlah keturunan terbesar sepanjang sejarah yang dapat diverifikasi.
Sementara, berdasarkan laporan Dominique Busnot, seorang diplomat Prancis yang sering bepergian ke Maroko, sang sultan sebenarnya memiliki 1.171 anak dari 4 istri dan 500 selir pada 1704. Kala itu Moulay Ismail berusia 57 tahun, dan telah memerintah selama 32 tahun.
Mungkinkah?

Sejumlah peneliti mengklaim, itu tak masuk akal. Salah satu alasannya, fase subur perempuan terbatas tiap bulannya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, baru-baru ini, para ilmuwan mengembangkan simulasi komputer untuk melihat berapa kali Ismaïl harus melakukan hubungan seksual setiap harinya untuk memiliki 1.171 anak dalam 32 tahun.
Hasilnya masuk akal, jika, sang pemimpin berhubungan dengan para istri dan selir, sekali dalam sehari, dalam 32 tahun.

"Kami berusaha sekonservatif mungkin dengan kalkulasi kami," kata pemimpin studi Elisabeth Oberzaucher, antropolog dari University of Vienna, seperti Liputan6.com kutip dari situs sains LiveScience, Kamis (27/2/2014)
Simulasi tersebut didasarkan pada berbagai model konsepsi. Misalnya, satu set simulasi mengasumsikan periode menstruasi perempuan tidak sinkron, sementara simulasi lain mengandaikan sebaliknya.

Faktor lain, termasuk kondisi sperma sang sultan saat membuahi sel telur perempuan pada usianya. Juga bagaimana perempuan seringkali terlihat lebih menarik secara seksual di masa paling subur.
Simulasi menunjukkan Sultan Ismail harus melakukan hubungan intim rata-rata 0,83-1,43 kali per hari untuk menjadi ayah dari 1.171 anak selama 32 tahun. Dengan itu, ia tak butuh 4 istri dan 500 selir untuk melakukannya. 'Hanya' 65 sampai 110 perempuan
Meski berdasarkan sejumlah model konsepsi yang digunakan para peneliti menunjukkan bahwa Sultan Ismail mungkin menjadi ayah dari lebih dari seribu anaknya, "hasil dari masing-masing simulasi sangat berbeda satu sama lain," kata Oberzaucher.

"Ini menggarisbawahi pentingnya memilih model yang tepat dalam studi reproduksi. Untuk mempelajari tipe perempuan dalam kalkulasi, siklus mereka dan kebiasaan seksual."
Temuan Oberzaucher dan para koleganya dijelaskan lebih rinci dalam jurnal PLOS ONE edisi 14 Februari 2014.
Melamar Putri Raja Prancis
Sultan Ismail, yang memerintah dari 1672 sampai 1727 adalah sultan besar pertama dari Dinasti Alaouite di Maroko -- wangsa yang memerintah hingga saat ini. Ia mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad -- Rasul junjungan umat Islam.
Sang sultan mewarisi tahta dari saudara tirinya, Al-Rashid yang tewas akibat terjatuh dari kuda. Di usia 26 tahun, Moulay Ismail mewarisi kesultanan yang lemah akibat pertempuran antarsuku dan sengitnya perebutan singgasana. Ia diakui sebagai pemimpin Maroko terbesar.

Masa kepemimpinannya adalah yang terpanjang di Maroko. Sultan Ismail mengendalikan pasukan yang terdiri dari 150 ribu tentara. Ia juga dikenal haus darah -- pemerintahannya memajang 400 kepala di Kota Fez, kebanyakan adalah komandan musuh. Lalu, 55 tahun berikutnya dalam kepemimpinan sang sultan, lebih dari 300 ribu orang tewas, tak termasuk yang meregang nyawa di medan tempur.
Selama pemerintahan Moulay Ismail, ibukota Maroko telah dipindahkan dari Fez ke Meknes. Seperti halnya Raja Louis XIV dari Perancis, sultan memulai pembangunan sebuah istana megah dan beragam monumen lain.
Pada 1682 ia mengirim Mohammed Tenim sebagai duta untuk Louis XIV, bahkan mengajukan lamaran dengan anak perempuan sang raja yang cantik, Marie Anne de Bourbon. Marie Anne menolak. (Raden Trimutia Hatta)

HOBIQQ


Kisah Balas Dendam Para Selir ke Kaisar yang Haus Darah Perawan

Beijing - Riwayat Kerajaan Tiongkok diwarnai intrik perebutan kekuasaan dan plot pembunuhan. Namun, apa yang terjadi pada Kaisar Jiajing sungguh tak biasa. Ia nyaris dihabisi para selir.
Kaisar Jiajing adalah penguasa dari Dinasti Ming. Awal berkuasa, ia menjadi tumpuan harapan bagi rakyatnya. Ia menghapus kebijakan rezim sebelumnya yang menindas, pejabat korup disingkirkan, dan pemotongan pajak diberlakukan di daerah yang mengalami bencana alam.
Akan tetapi, beberapa tahun berkuasa, ia mulai menyimpang. Jiajing yang naik takhta menggantikan sepupunya, Kaisar Zhegde, mempersembahkan ritual dan gelar pada orangtuanya. Demikian seperti dikutip dari Ancient Origins (22/1/2018).

Penghormatan itu sejatinya hanya berhak dimiliki mereka yang masuk garis kekaisaran.
Hal itu memicu konflik dengan para bangsawan istana. Ratusan pejabat dipecat, ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh karena menentangnya.
Tak hanya itu. Ambisi Jiajing akan keabadian membutakan matanya. Ia ingin hidup selamanya. Untuk itulah sang kaisar menjelma menjadi penguasa brutal, yang tak sesuai dengan namanya yang berarti "ketenangan yang mengagumkan".
Apa yang disebutnya sebagai "ramuan keabadian" adalah darah menstruasi perawan.

Selama masa pemerintahannya, ia memerintahkan sejumlah gadis muda pilihan, secara bergantian, dibawa ke Kota Terlarang (Forbidden City) untuk "dipanen".
Untuk memastikan tubuh mereka tetap murni, makanan mereka dibatasi. Para perawan hanya boleh mengonsumsi mulberi dan embun atau air hujan. Para dayang istana pun jadi korban praktik itu.
Mereka yang sakit bakal ditendang keluar istana dan dipukuli. Tak sedikit dari mereka yang mati kelaparan gara-gara diet mengerikan itu.
Tak hanya itu, sejumlah gadis muda diambil dari seluruh penjuru negeri untuk dijadikan pelampiasan nafsu. Menjadi selir.

Menurut aturan saat itu, setiap wanita atau selir yang tidur dengan kaisar harus diberi gelar. Namun, Jiajing sering melupakannya. Bibit-bibit kebencian pun menyebar di harem sang kaisar.
Pada tahun 1542, kemarahan yang terpendam di dada para selir dan dayang memuncak.
Dengan bantuan sejumlah orang dalam istana, para pelaku menuju paviliun Selir Duan atau Lady Cao. Selir Yang Jinying memimpin komplotan itu.
Setelah teman tidurnya itu keluar diikuti para dayang, Kaisar Jiajing dibiarkan sendirian di kamar.

Saat itulah, para selir penyerang beraksi. Mereka mencoba mencekik sang kaisar dengan pita hiasan rambut.
Upaya itu gagal. Para selir lalu mengambil tirai sutra, memilinnya, lalu mengikatkannya ke leher sang kaisar. Namun, mereka mengikat dengan simpul yang salah sehingga jerat di leher Jiajin longgar, tak maksimal mencekiknya.
Salah satu konspitor pun panik, ia melaporkan upaya pembunuhan tersebut pada Maharani Fang.
Sementara itu, Jiajing melawan sekuat tenaga. Selir Yang lalu menarik tusuk konde perak dari rambutnya dan menikamkannya pada kaisar yang langsung tak sadarkan diri. Saat itulah, sang permaisuri datang disertai para prajurit. Para pelaku diringkus..

Ketika fajar menyingsing, mereka semua dihukum mati dengan kejam, tubuh mereka diiris perlahan. Eksekusi itu dijuluki "kematian oleh seribu luka". Kepala mereka kemudian dipenggal dan dipertontonkan kepada publik sebagai peringatan bagi yang lain.
Tak hanya para pelaku, keluarga mereka pun tidak luput dari hukuman. Bahkan selir Cao Duan yang tidur dengan kaisar malam itu juga dihukum mati.
Fakta bahwa usaha pembunuhan tersebut terjadi di kamarnya memberi alasan kepada sang Ratu untuk menghilangkan saingan potensialnya di istana.

Walaupun Jiajing lolos dari pembunuhan itu, dia kehilangan sebuah matanya. Malu dengan penampilannya dia tidak pernah hadir rapat-rapat kenegaraan. Tidak ada seorang pun dari luar istana dalam boleh melihat wajahnya kecuali Yan Song, si perdana menteri korup kepercayaannya.
Kaisar Jiajing, yang sempat tak sadarkan diri, murka saat mengetahui selir kesayangannya dihukum mati. Apalagi, belakangan terbukti, ia tak terlibat dalam penyerangan. Sang ratu pun diasingkan.
Saat kebakaran menimpa sebagian istana, kaisar menolak menyelamatkan Permaisuri Fang. Ia pun tewas di tengah kobaran api.Pasca-upaya pembunuhan, Kaisar Jiajing tak menghentikan aksi brutalnya. Ia tetap berambisi untuk hidup abadi.

Ia kemudian mengeluarkan aturan yang membatasi usia para gadis muda yang boleh masuk ke istana.
Pada 1547, 300 gadis muda berusia antara 11 dan 14 tahun dikirim ke istana untuk dijadikan dayang. Pada 1552, 200 lainnya dipilih jadi pelayan istana, tapi batasan usia diturunkan jadi delapan tahun.
Tiga tahun kemudian, pada 1555, 150 gadis muda di bawah delapan tahun dibawa ke istana. Mereka semua semua bertugas menyediakan bahan baku untuk ramuan keabadian sang kaisar.
Setelah lolos dari upaya pembunuhan, Jiajing mengasingkan diri ke bagian barat Kota Terlarang. Selama dua dekade, ia tak memedulikan roda pemerintahan dan membuat kerajaannya mundur.
Kaisar Jiajing meninggal pada tahun 1567 di usia 59 tahun. Spekulasi menyebut, ia tewas akibat merkuri beracun yang terkandung dalam "ramuan keabadian" yang ia konsumsi selama hidupnya.


HOBIQQ